Jumat, 10 Juli 2020 - 06:32 WIB

Menanggapi Batalnya Diskusi Bertajuk "Persoalan Pemecatan Presiden"

Oleh : Indah Pratiwi | Budi | Kamis, 04 Juni 2020 | 11:08 WIB

Shares
Share Twitter Google+ Linkedin

Oleh: Saefudin Achmad

Saya ingin menanggapi terkait diskusi dengan tema "pemecatan presiden" di tengah pandemi ditinjau dari sistem ketatanegaraan yang batal diselenggarakan dengan alasan mendapat teror. Saya berharap persoalan sederhana ini jangan sampai menjadi polemik berkepanjangan. Saya kira persoalan ini simpel dan sederhana. Terlalu berlebihan ketika ada opini berkembang bahwa pemerintah sekarang tidak menghargai kebebasan berpendapat, apalagi dalam ranah akademik.

Diskusi Ilmiah yang diselenggarakan di dunia kampus sangat diperbolehkan, termasuk diskusi dengan tema pemberhentian presiden. Namun yang unik, menurut Kabag Humas dan Protokol UGM, Iva Iriani, acara tersebut bukan acara resmi UGM maupun Fakultas Hukum. Penyelenggara kegiatan diskusi tersebut adalah Komunitas Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UGM.

Kenapa Kabag Humas dan Protokol perlu menjelaskan jika itu bukan acara resmi UGM? Ini yang jadi pertanyaan. Seolah-olah UGM tidak ingin nama besarnya sedikit tercemar karena sebuah acara yang menjadi polemik.

Kenapa diskusi ilmiah kemudian menjadi polemik? Saya kira jawabannya soal etis dan tidak etis. Indonesia terkenal dengan negeri yang rakyatnya masih menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai sopan santun. Meskipun sebuah tindakan tidak melanggar hukum, namun jika bagi masyarakat Indonesia kurang etis, akan muncul reaksi dan ujungnya menjadi polemik.

Sudah sering diskusi ilmiah di kampus menuai polemik di masyarakat. Hal-hal yang sangat biasa di dunia akademik kampus, bisa menjadi tidak biasa di luar kampus. Memang idealnya, dunia akademik di kampus seyogyanya menjadi santapan para akademisi, bukan masyarakat umum.

Tema diskusi tentang " persoalan pemecatan presiden di tengah pandemi ditinjau dari sistem ketatanegaraan" yang kemudian diubah menjadi "meluruskan persoalan pemecatan presiden di tengah pandemi ditinjau dari sistem ketatanegaraan" memang cukup sensitif. Penggantian tema diskusi juga cukup menjadi tanda tanya meskipun Presiden CLS UGM, Aditya Halimawan menyebut alasannya karena penggunaan diksi yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan UUD 45.

Jika tema ini didiskusikan di luar masa pandemi covid-19, mungkin reaksi publik tidak akan seheboh ini. Terus, mungkin saja publik merasa diskusi ini tidak memberikan kontribusi positif terhadap perang melawan covid-19. Entahlah. Secara nalar, publik tidak mungkin bereaksi jika tema diskusi tidak sensitif. Meskipun penyelenggara berkali-kali menjelaskan bahwa diskusi ini ilmiah, namun kenyataannya publik bereaksi.

Salah satu reaksi publik mungkin berupa datangnya teror sebagaimana yang diklaim oleh panitia dan narasumber diskusi tersebut. Saya ikut mengutuk penebar teror kepada siapapun, termasuk teror ke dunia akademik meskipun sampai sekarang belum jelas siapa yang meneror panitia dan narasumber diskusi.

Hanya saja, saya sedikit menyayangkan reaksi dari panitia dan narasumber. Mereka itu orang hukum. Jika memang mereka mendapat teror bahkan sampai ancaman pembunuhan, seyogyanya mereka menempuh jalur hukum. Mereka bisa melaporkan teror dan ancaman itu ke pihak berwajib. Sebagai orang hukum, saya kira hal ini sangat dimengerti dan mudah dilakukan oleh mereka.

Saya menyayangkan ketika mereka tiba-tiba membatalkan diskusi tersebut lalu membeberkan alasan karena diteror dan diancam dibunuh. Kok mereka seperti orang yang tidak paham hukum. Seperti tidak tahu bahwa di Indonesia ada penegak hukum. Harusnya mereka melaporkan teror dan ancaman itu ke polisi dan tetap menggelar diskusi. Entahlah. Di sini saya menjadi bertanya-tanya.

Saya yakin polisi sangat siap mengamankan kegiatan diskusi jika memang ada ancaman terhadap kegiatan diskusi tersebut. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Donny Gahral Adian juga mendorong agar tindakan intimidatif dan ancaman pembunuhan terkait diskusi pemberhentian presiden oleh mahasiswa Constitusional Law Society (CLS) Fakultas Hukum UGM dibawa ke ranah hukum. Beliau juga menegaskan bahwa pemerintah menghargai kebebasan berpendapat karena dilindungi undang-undang.

Kesimpulannya, persoalan ini sangat sederhana. Pemerintah maupun aparat menghargai diskusi tersebut, tidak menghalangi apalagi melarang. Lalu katanya ada teror dan ancaman pembunuhan sehingga acara tersebut dibatalkan. Jadi yang menjadi pokok permasalahan adalah si penteror yang sampai sekarang tidak jelas siapa, serta sikap panitia dan narasumber yang tidak melaporkan teror dan ancaman ke pihak berwajib. Mereka paham hukum, tapi seolah tidak menganggap bahwa Indonesia adalah negara hukum yang memiliki penegak hukum yang akan mendindak siapapun yang melanggar hukum.

Sangat lucu kalau kemudian muncul opini-opini liar seperti pemerintah ada di balik teror itu, presiden takut terhadap diskusi dan ingin memberangus kebebasan berpendapat di Indonesia, rezim sekarang seperti rezim orba. Apalagi jika kemudian Presiden Jokowi lagi yang kena dan disalahkan. Sungguh sangat lebay!

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)





Fokus : Diskusi Pemecatan Presiden


#Presiden Jokowi #Joko Widodo #Jokowi Orang Baik #Jokowi Orang Hebat #Jokowi #Diskusi Pemecatan Presiden #Diskusi Pemecatan Presiden Batal


Shares
Facebook Twitter Google+ Linkedin



Komentar






1 jam yang lalu

Sadis! Ibu di Aceh Siram Anak Pakai Air Panas hingga Sekujur Badannya Melepuh

Beritacenter.COM - Seorang siswi berusia 13 tahun di Aceh Timur, Aceh, hanya bisa merakasan sakit yang begitu parah..
3 jam yang lalu

Tak Disangka ! Ternyata Sering Pijat Payudara Memiliki Banyak Manfaat Bagi Kesehatan

Beritacenter.COM - Payudara merupakan bagian tubuh yang penting dan rentan terhadap penyakit terutama perempuan...
4 jam yang lalu

Pemuda di Tanggerang Ditemukan Tewas Gantung Diri, Polisi : Motif Masih Diselidiki

Beritacenter.COM - Jajaran anggota kepolisian terus melakukan penyelidikan terkait motif tewasnya seorang pemuda..
6 jam yang lalu

Pengamat Politik : Kinerja Menteri Edhy Lebih Dirasakan Manfaatnya oleh Nelayan Ketimbang Menteri Sebelumnya

Beritacenter.COM - Pengamat politik, Adi Prayitno menilai kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dalam..
7 jam yang lalu

Ketua Gugus Tugas Beberkan Maksud Presiden Terkait Peringatan "Lampu Merah"

Beritacenter.COM - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo menjelaskan maksud Presiden..
8 jam yang lalu

Terungkap! Mayat Guru yang Ditemukan Bugil Ternyata Diperkosa dan Dibunuh Muridnya

Beritacenter.COM - Polres Banyuasin memastikan tewasnya guru bernama Efriza Yuniar (49) di Sumatera Selatan, akibat..
8 jam yang lalu

Polda Metro Tangkap WN Prancis Diduga Cabuli 305 Anak Dibawah Umur di Jakarta

Beritacenter.COM - Warga negara Prancis bernisial FAC (65) diamankan personel Polda Metro Jaya, lantaran mencabuli..
8 jam yang lalu

Permintaan Ekspor Meningkat 5 Persen, KKP Dorong Budibaya Ikan Kerapu

Beritacenter.COM - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo akan terus mendorong pembudidayaan ikan kerapu, salah..
9 jam yang lalu

Ini Penjelasan Pemkot Depok soal Viral Spanduk 'Masker Melenceng' di Terminal Jatijajar

Beritacenter.COM - Belum lama ini, viral di media sosial sebuah foto yang menampakkan spanduk ucapan 'Selamat Idul..
10 jam yang lalu

Kebakaran Hanguskan Rumah Tinggal di Rappocini, Wanita 70 Tahun Tewas

Beritacenter.COM - Sebuah rumah tinggal di Kecamatan Rappocini, Makassar, hangus terbakar. Akibatnya, pemilik rumah..
10 jam yang lalu

Pakar: Konsistensi Pemerintah Kejar Buron Maria Lumowa Patut Dapat Apresiasi

Satu hal yang perlu dicatat dan diapresiasi adalah NCB Interpol Indonesia (Polri) telah memasukkan nama MPL dalam red..
10 jam yang lalu

Inter Milan Ajukan Tawaran 2 Pemain Chelsea

Beritacenter.COM - Klub raksasa Italia Inter Milan mengajukan dua pemain Chelsea pada bursa transfer musim panas..
10 jam yang lalu

Kunjungi Lamongan, Menteri KKP dan Gubernur Jatim Dorong Produksi Ikan Kerapu

Beritacenter.COM - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa didampingi dengan Menteri Kelautan dan Perikanan..
11 jam yang lalu

Terungkap! Susi Kritisi Kebijakan Menteri Edhy Karena Kepentingan Bisnis-Politiknya Terganggu

BeritaCenter.COM - Direktur Eksekutif Ekonomika Institut, Riyanda Barmawi, mempertanyakan sikap kritis mantan menteri..
11 jam yang lalu

Wajib Coba !!! 7 Manfaat Konsumsi Buah Manggis untuk Kesehatan

Beritacenter.COM - Buah manggis dikenal dengan kaya manfaatnya untuk kesehatan tubuh kita. Buah ini memiliki tekstur..
11 jam yang lalu

Musisi Reggae Jali Gimbal Positif Ganja, Polda Metro Buru Pemasok

Beritacenter.COM - Jajaran Polda Metro Jaya menangkap musisi reggae Jali Gimbal alias AS, setelah terbukti..
12 jam yang lalu

Musisi Reggae Jali Gimbal Diamankan Polisi Terkait Narkoba, Hasil Tes Urine Positif Ganja

Beritacenter.COM - Musisi reggae bernama Jali Gimbal alias AS (43), diamankan personel Polda Metro Jaya setelah..
13 jam yang lalu

Edarkan Sabu, IRT di Sinjai Diringkus Polisi

Beritacenter.COM - Satresnarkoba Polres Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel) menangkap seorang ibu rumah tangga (IRT)..
13 jam yang lalu

Duh, Pegawai RS Terlindas Truk Tronton saat Nyalip di Jalur Maut Bangbayang Cianjur

Beritacenter.COM - Nahas, nasib seorang pegawai RS Sayang Cianjur terlibat kecelakaan di jalur maut Bangbayang..
14 jam yang lalu

Dapat Perhatian Khusus, KKP Berikan Bantuan Kredit Rp 42 Miliar untuk Pelaku Usaha Perikanan

Beritacenter.COM - Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan perhatian khusus kepada pengusaha sektor..
15 jam yang lalu

Kebijakan KKP Dijamin Pro Rakyat

BeritaCenter.COM - Anggota Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik Kelautan dan Perikanan, Ali Mochtar..
15 jam yang lalu

Diduga Depresi, Supir Ojol Ditemukan Tewas Gantung Diri di Tanggerang

Beritacenter.COM - Seorang pengemudi ojek online (ojol) ditemukan tewas gantung diri di kontrakannya, Cikupa,..

+Indeks
Buat Artikel






 

About

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi